Sastrawrite

Iseng-Iseng Dewasa

0

Karya: Deri Hudaya

Hari sudah malam. Meja sudah malam.

Kursi sudah malam. Pintu. Jendela. Pistol mainanku.

Sudah malam.

Ayah sudah tidur. Pulas dengan suara dengkur
yang terdengar dahsyat. “Ade, jangan coba-coba mengganggu
ayah, ya,“ bisik ibu. “Dalam mimpinya, ayah
pasti lagi bertempur.”

Pikiranku, saat itu belum mau mengerti.
Apakah ayah sedang bertempur melawan batuknya,
atau kesengsaraannya yang juga ikut kami rasakan,
ataukah melawan hantu yang konon biasa gentayangan
mengganggu manusia pada malam Jum’at (persis malam itu).

Dan tak habis pikir. Ibu tak mengijinkan aku membantu ayah.
“Ade tidur sanah. Biar, biar ibu yang membantu ayah.”
Lalu ibu masuk kamar membawa pistol mainanku.
Masuk ke selimut. Lalu, barangkali, ibu berhasil masuk
ke dalam mimpi (atau medan pertempuran).

Astaga, pertempuran orang dewasa tak seperti apa
yang bisa dibayangkan anak-anak. Saat aku kemudian iseng
mengintip mimpi dari celah pintu kamar mereka,
ayah malah tampak menghajar ibu, kadang
ibu berbalik unggul menghajar ayah.

Sejak saat itu, hidupku berubah.
Aku merasa jauh lebih dewasa dari sebelumnya.

2014.

rublik

Longsor di Limustilu-Singajaya

Previous article

PJP IV BERLANGSUNG HEBAT

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Sastra