Minggu Pagi Bersama Ngejah Junior

Oleh: Ine Yuniar Suryadi

Minggu pagi, 13 Januari 2019 adalah perjalanan pertama saya bersama Ngejah Junior. Lari pagi dari Garut ke Tasikmalaya. “Waaah.. Garut ke Tasik? Dua kota dong? jauh,” sahutku dalam hati. Tapi tenang, disebut Garut ke Tasik karena memang lokasi Komunitas Ngejah berada di perbatasan antara Kab. Garut dan Kab. Tasikmalaya. Hampir sama seperti di Kalimantan, dari Indonesia ke Malaysia. Nah, satu hari sebelumnya Kak Vita sebagai Koordinator Ngejah Junior mengajak sekaligus menginterupsikan kepada anak-anak Ngejah Junior untuk lari pagi, “Jangan lupa bawa bekal dan air minum, kumpul tepat pukul 07.00 teng.”
Pukul 07.00 WIB ternyata anak-anak belum datang, “hmmmm sudah biasa suka ngaret,” kata Kak Vita agak kesal. Satu persatu anak-anak mulai datang ke Saung Komunitas Ngejah dan pukul 08.00 sudah berkumpul semua. Agar perjalanan terdokumentasikan, tidak lupa kita foto bersama di depan saung dan bercuap-cuap sedikit sebagai bahan dijadikan video.
Lari pagi kali ini berbeda dari biasanya, jalan yang menanjak dan berkelok-kelok menjadi tantangan tersendiri dan berhasil membuat badan ini mengeluarkan keringat. “Rutin setiap minggu lari pagi, enak nih badan menjadi sehat”. Meskipun jalan yang menanjak dan berkelok-kelok tapi kiri-kanan disuguhkan dengan pemandangan Kebun Teh yang hijau indah, udara yang sejuk memanjakan mata dan hati. “Masya Allah, sungguh indah lukisan karya-Mu Yaa Rabbku”.
Tujuan akhir lari pagi kali ini adalah Gunung Simpai, Rute Saung Komunitas Ngejah-Gunung Simpai, jarak tempuh lari pagi kali ini kurang lebih 5 Km. Lari pagi yang santai bersama balita dan anak-anak sungguh memberikan hiburan tersendiri, tidak hanya sebatas lari pagi tetapi lebih dari itu adalah liburan sederhana membuat bahagia. Larinya beberapa detik, berjalannya sekian menit, begitulah lari pagi kali ini. Di sela-sela perjalanan tidak jarang kami bersenda gurau, menempelkan daun singkong di atas kepalan tangan lalu menepuknya dengan tangan yang satunya hingga menghasilkan suara yang cukup keras adalah permainan yang sederhana namun mampu melukiskan tawa di wajah anak-anak Ngejah Junior pada lari pagi kali ini.
Beberapa meter menuju puncak Gunung Simpai medan cukup terjal, lumayan membuat napas terengah-engah, khususnya bagi saya yang pertama kali melakukan perjalanan ini. Tidak seperti anak-anak yang lain dengan semangat tanpa lelah terus berlari menuju puncak. Langkah demi langkah dengah napas yang haheho, keringat yang terus bercucuran, panas matahari pagi yang hangat dan sisa-sisa tenaga akhirnya saya berhasil menuju puncak Gunung Simpai. “Yeeeee berhasil, Alhamdulillah akhirnya sampai di puncak juga”. Puncak Tower kalau kata anak-anak bilang, karena memang di sana ada tower untuk jaringan telekomunisasi. Setelah sampai di puncak rasanya tidak ingin pulang, pemandangan hijau Kebun Teh dan daerah Garut Selatan terlihat begitu jelas. “Wah, sepertinya kalau malam lebih indah, hamparan lampu kerlap-kerlip”.
Kedua mata disuguhkan dengan pemandangan yang indah, tetapi perut sudah berdering memanggil untuk diisi. Karena jam sudah menunjukan pukul 09.30, masing-masing anak membuka bekal dan makan bersama. Sungguh nikmat lari pagi plus liburan sehat kali ini. Satu dua tiga jepretan diabadikan sebagai pelengkap bahan dokumentasi nanti. Hari sudah siang dan matahari memancarkan panas bukan hangat lagi, akhirnya kami pun memutuskan untuk pulang. Satu persatu anak-anak menuruni puncak Gunung Simpai, untuk perjalanan pulang agar anak-anak tidak terlalu kelelahan bergiliran menaiki motor yang memang sudah disiapkan, “Daaan akhirnya kita pulang!”. Sampai di saung dengan selamat, perut kenyang hatipun senang. Alhamdlillah, sampai bertemu kembali di perjalanan kedua, ketiga dan selanjutnya. Terus membaca dan berkunjung ke Komunitas Ngejah ya teman-teman.
Sukawangi, 13 Januari 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *